Beasiswa Program Fast-Track Angkatan-II ITS

Fast-Track? apa itu?

Program Fast-track adalah salah satu terobosan terkini dalam dunia pendidikan, yakni bagi adik-adik yang masih dalam masa studi S1 diberi kesempatan khusus untuk melanjutkan ke jenjang S2, bahkan dimungkinkan hingga nyambung ke-S3. WoW..! ๐Ÿ™‚

Tahun 2012 ini, ITS kembali membuka peluang untuk adik-adik yang sudah semester-6 yang berminat dengan program Fast-Track ini.

Apa saja sih yang perlu dipersiapkan? ย Kapan ya batas pendaftarannya..?

Baca lebih lanjut

Iklan

Konsistensi Hasil Program vs Programmer

Suatu ketika, ada orang yang lagi mrogram mengeluh,
“Kenapa programnya nggak jalan sih? Harusnya kalo di tutorialnya kan bisa jalan tuh.”

Nggak jarang, diantara kita, baik yang masih newbie atopun udah agak expert jam terbangnya, ketika setelah ngoding, run program.. Eh, si program nggak jalan seperti yang diharapkan. Dicarilah si kambing hitam yang membuat program itu nggak jalan.. Mulai dari passing parameter, sampai query2 rumit..
Setelah dicek, rasanya udah benar, tapi kenapa masih nggak bisa ya..?
Buntutnya, ternyata masalah penulisan variabel. Suatu waktu dia nulis “varAbCd”, tpi di lain bagian dia nulis “varAbcd”. Parahnya, ternyata programming language yang dia pakai itu Case Sensitive,, itu yang bikin si programmer tadi nyari sampai lamaa baru ketemu.
apa sebabnya kok bisa lama baru bisa ketemu?
Secara psikologis, mata manusia jika membaca huruf depan & belakang suatu kata, maka intepretasi kata tersebut bagaikan suatu kata utuh, meskipun huruf di tengahnya ada yang besar/kecil/

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู.
Itulah Kuasa Ilahi.. (Mungkin detail dari kisah ini akan diulas di lain waktu).

Oleh karena itu, meskipun programmer yang udah senior pun, masih ada kemungkinan kesalahan “sepele” ini terjadi, karena itu refleks bawah sadar dari syaraf mata manusia.

Anyway, sebagai penutup dari tulisan ini.. Khususnya untuk ngingetin diri saya sendiri ๐Ÿ™‚

Konsistensi Program yang dihasilkan oleh seorang Programmer bergantung Pada Konsistensi Programmer-nya.
So, Don’t blame your Program / Others before you Blame Yourself, First..!
(เธ‡’ฬ€โŒฃ’ฬ)เธ‡.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Streaming vs Download Video dari Youtube

Kawan,, suka streaming video di youtube?

Pernah kah terpikirkan gimana jika ingin memutar ulang video tadi?

Well.. kalau punya internet dengan bandwidth tinggi, hal ini nggak jadi masalah,, ย tapi, nggak sedikit yang punya bandwidth terbatas, lho.. *termasuk saya* ๐Ÿ˜€

Salah satu solusinya adalah, men-download video tersebut dari situsnya & menyimpannya dalam komputer / flashdisk kita. ย Apa sih manfaatnya & gimana caranya ya…?

Baca lebih lanjut

IES 2011 Sharing..

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kesempatan dengan durasi terbatas namun berharga, khususnya bagi para praktisi yang bergelut di luat bidang akademisi. Banyak peluang yang terbuka & jika hal tersebut dioptimalkan, maka momen ini akan menjadi kenangan & pencapaian tersendiri, baik bagi indivisu maupun insititusi yang menaungi. Salah satunya adalah kesempatan untuk publikasi seminar, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Semester-2 di MMT-ITS adalah waktu dimana para mahasiswa mulai melakukan pemantapan ide tesis, demikian juga saya. Ketika itu terbesit dalam pikiran bahwa “kalau misalnya ada kesempatan untuk publikasi internasional, kenapa nggak dicoba?!”
Berawal dari mindset itu, saya mencari info tentang seminar yang ada di mancanegara. Dengan adanya teknologi informasi ada yang saat ini, didapat beberapa opsi dan salah satu yang feasible adalah IES (International Engineering Symposium) 2011 yang akan diselenggarakan di Jepang bulan maret 2011.
Jiwa “bonek” arek suroboyo saya muncul! Dalam pikiran saya, “kesempatan emas belum tentu datang 2kali”, oleh karena itu saya coba kejar.
Saya kontak dosen yang bersedia membimbing tesis, kemudian pada bulan november saya “iseng” mendaftarkan diri ikut seleksi paper penelitian dengan mengirim abstraksi dari paper saya.
Sebagai informasi, paper di seminar internasional biasanya akan diseleksi dulu dari abstraksinya. jika diterima, maka calon peserta bisa mengumpulkan full-paper, dalam bahasa inggris tentunya.
Ternyata, saat diumumkan di bulan desember, abstrak paper saya lolos!
Deadline pengumpulan full-paper hanya 3minggu!
Dengan dukungan berbagai pihak, khususnya MMT-ITS, saya berangkat untuk mempresentasikan materi pre-thesis saya.
Petualangan saya di Kumamoto, Jepang berlangsung pada 1-6 Maret 2011. Ini adalah kedua kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Sakura setelah pada 2001 lalu, ketika saya menjadi peserta pertukaran pelajar saat SMP dalam misi seni&kebudayan, mewakili Indonesia di Toyota-City,Nagoya,Jepang.
Suhu udara di Kumamoto saat itu 3-5 derajat celcius. Bertepatan peralihan musim dingin ke semi.
Acara IES-2011 ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai negara seperti India, Brazil, Jepang, Vietnam, dan Indonesia. Namun dominasinya adalah peserta dari India (60%).
Banyak hal didapatkan selama berada disana. Diantaranya adalah budaya & karakter orang dari negara sahabat. Orang2 India pandai2! & punya rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka hampir selalu aktif bertanya di setiap sesi pada paralel-session. Namun, dalam hal kedisiplinan, kebersihan & keramahan, orang Jepang tetap luar biasa! Selain itu, mereka sangat totalitas dalam melakukan sesuatu. Sedangkan kami yang dari Indonesia, tentu tidak mau kalah aktif dalam komunikasi dengan mereka. Hehe.
Satu kesan lagi tentang Jepang yaitu banyak mahasiswa indonesia yang studi di sana & siap saling membantu. Kebetulan saya tidak makan babi & sejenisnya, oleh karena itu sharing pengalaman dari rekan-rekan disana sangat banyak membantu. Khususnya dalam memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi.
Tak lama setelah saya pulang, Jepang diguncang gempa (jumat 11-maret-2011). Syukur saudara2 kita di Kumamoto tidak terdampak gempa tersebut.

Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman semua untuk “think out-of-the-box”, kalau bisa publikasi tesis tingkat internasional, kenapa tidak dicoba?
Selagi pena belum diangkat & tinta telah mengering. karena, kesempatan yang sama belum tentu terulang kembali!
Vivat..! \(^โŒฃ^)/

secured-area di kedatangan domestik bandara juanda

Alkisah, suatu malam, atau lebih tepatnya.. Malam ini ๐Ÿ˜€ saya ada perlu menjemput famili di kedatangan domestik, bandara juanda surabaya.
seperti biasa, setelah memarkir kendaraan, saya menuju ke area ruang tunggu dekat pintu keluar domestik sambil melihat papan pengumuman yang ada.
Tapi,, saya merasa ada sesuatu yang beda. Sekitar 5-8meter dari pintu keluar ternyata dipasang pagar stainless-steel setinggi 1meter. Karena itu, orang2 tidak bisa mendekat seperti biasa.
Ada apa gerangan? Ada tamu penting kah?? Ternyata tidak..!!
Ada kebijakan baru dari pihak bandara agar “mensterilkan” area pintu keluar, sehingga para penumpang pesawat tidak “disambut keruwetan” begitu melewati pintu keluar.
Menurut saya pribadi, Ada beberapa sisi +- dari “secured-area” ini:

    para penjemput “dipaksa” untuk mundur membuat pintu keluar terkesan lebih lega..
    para penumpang jadi lebih leluasa bergerak untuk menentukan angkutan yang akan digunakan untuk pulang. Tidak ruwet dengan para calo
    Area ruang tunggu jadi lebih sempit karena selain dibatasi pagar, juga ada area yang ditutup untuk dibuat semacam stan/toko
    Ruang tunggu penjemput campur jadi 1, sehingga perokok pasif mau tidak mau juga ikut menghirup asap dari para perokok aktif
    keterbatasan kursi tunggu membuat banyak orang berjubel di sekitar pagar & keliling mondar-mandir.. Hal ini membuat suasana di ruang tunggu penjemput TETAP ruwet.

Kesimpulannya..
Ide untuk membuat secured-area sangat bagus. Membuat kesan bandara lebih lega (dari sisi pintu keluar). Namun ada baiknya jika ditunjang juga dgn fasilitas pendukung untuk para penjemput, sehingga kesan ruwet di bandara terbersih di Indonesia ini bisa dimunculkan dengan baik.. ๐Ÿ™‚